Penyesalan.....


Dari Fahmi di Jawa Timur
Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Pendengar Nurani yang budiman
Penyesalan memang selalu datang terlambat pada kehidupan kita, dan penyesalan terkadang hanya memberi duka yang mendalam pada kita, disaat mengenang kembali sejarah silam yang menjadi penyebab penyesalan itu muncul..., demikan yang aku alami saat ini. Duka yang teramat mendalam itu kini masih mendera dalam lubuk hatiku yang paling dalam, saat menyadari bahwa saat ini aku tengah kembali menyendiri, setelah setahun silam orang yang sangat mengasihi aku, orang yang sangat peduli padaku telah dipanggil oleh Allah.
 

Mereka yang Tersungkur karena Al-Quran

Kisah ini menceritakan seorang hamba Allah yang sangat peka terhadap firman Tuhannya. Pemahamannya terhadap Al-Quran dan rasa takutnya terhadap Sang Pencipta menyebabkan hatinya sangat lululh terhadap Al-Quran. Dia bisa jatuh tersungkur, menangis tersedu-sedu, pingsang, bahkan hingga mati, karena mendengar lantunan Al-Quran. Bukan dibuat-buat, tapi betul-betul buah dari ketakwaannya.

Barangkali merekalah orang yang dimaksud dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ
“Akan masuk surga sekelompok orang, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad 8382 & Muslim 2840)

 

Jin yang Disembah, Justru Masuk Islam


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau menerangkan tafsir dari firman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya), “Mereka itu -sosok- yang disembah -selain Allah- justru berusaha mencari kedekatan diri di sisi Rabb mereka, siapakah di antara mereka yang lebih dekat -kepada-Nya-.” (QS. al-Israa’: 57). Beliau berkata, “Dahulu sekelompok bangsa jin masuk Islam, sedangkan sebelum itu mereka dipuja-puja (disembah) -oleh manusia-. Kemudian orang-orang yang dahulu menyembah mereka tetap bertahan untuk menyembah mereka, padahal sekelompok jin -yang disembah itu- telah masuk Islam.”(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Shahih Bukhari hal. 983 dan Syarh Muslim [9/270])
Hadits yang agung ini mengandung hikmah, antara lain:
  1. Hakekat tauhid adalah dengan menujukan ibadah -di antaranya adalah doa- hanya kepada AllahTa’ala (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 80). Ini artinya, orang yang menujukan ibadah kepada Allah dan juga kepada selain Allah, maka dia belum dianggap sebagai orang yang bertauhid, meskipun bekas sujudnya melekat di dahinya dan bacaan al-Qur’annya bisa membuat menangis semua orang yang mendengarnya!
  2. Tauhid mengandung sikap berlepas diri dari segala bentuk kemusyrikan/peribadatan kepada selain Allah. Sehingga tidak ada yang boleh disembah selain Allah siapapun atau apapun bentuknya (lihatal-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/94], al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 32).
  3. Bantahan bagi orang yang beranggapan bahwa kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik hanya disebabkan mereka memuja berhala/patung (lihat catatan kaki dalam Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 93)
  4. Mengabulkan doa merupakan salah satu bagian dari keesaan rububiyah Allah ta’ala (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 80). Oleh sebab itu menujukan doa kepada selain Allah merupakan kekafiran/pengingkaran kepada tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang berdoa kepada sesembahan tandingan selain Allah yang tidak ada bukti untuk membenarkannya maka sesungguhnya perhitungannya adalah di sisi Rabbnya, sesungguhnya orang-orang kafir itu tidaklah beruntung.” (QS. al-Mu’minun: 117).
  5. Kebatilan peribadatan kaum musyrikin kepada selain Allah, dimana sosok yang mereka ibadahi justru mencari kedekatan diri di sisi Allah serta mengharapkan rahmat dan takut akan siksa-Nya (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 57)
  6. Kesalihan yang ada pada diri sosok yang disembah selain Allah tidak bisa dijadikan sebagai dalil/alasan untuk membenarkan perbuatan syirik yang melibatkan diri mereka (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 57). Syirik ya tetap syirik, walaupun yang disembah adalah Nabi atau malaikat, apalagi yang disembah adalah jin!
  7. Mengucapkan syahadat saja tidak cukup apabila tidak diiringi dengan sikap mengingkari segala sesembahan selain Allah (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 58). Oleh sebab itu dakwah yang diserukan oleh para rasul adalah, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.” (lihat QS. an-Nahl: 36)
  8. Mengimani keberadaan makhluk yang disebut dengan jin. Tidak sebagaimana anggapan sebagian orang yang berpendapat bahwa ‘jin’ adalah sekedar ungkapan yang mewakili segala sesuatu yang samar dan tersembunyi dan bukan nama bagi suatu makhluk tertentu sebagaimana halnya manusia. Apakah mereka tidak membaca al-Qur’an dan as-Sunnah, sehingga sedemikian jauh kesesatan mereka? Allahul musta’aan.
  9. Jin ada yang kafir dan ada yang muslim. Hal ini menunjukkan bahwa jin juga dibebani kewajiban beribadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam ayat-Nya (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)


Kata Kunci Terkait: kisah orang bertauhidkisah nabi dan jinkisah masuk islamcerita orang masuk islamal kisah jin masuk islamkisah nabi dengan para jinas syekh yang bacaannya membuat menangiscerita tentang jin dan manusiakisah jin islamkisah tentang jin islam
 

Nasehat Terindah dari Sahabat

Bismillah...
Wahai ukhtifillah... Berbanggalah bila saat ini masih menjadi jomblowati yang selalu menjaga kehormatan dalam Gadhul Bashar dengan tidak memajang foto wajahmu diberbagai akun dunia maya untuk menghindari fitnah yang keji.
Cukuplah kecantikanmu hanya untuk suamimu kelak, sebab ada jalan ta'aruf yang telah diridhoi Allah Azza wa Jalla sebelum pernikahan... Ingatlah hijabmu adalah perisai bagimu... Subhanallah...

Wahai para muslimah tidakkah engkau khawatir terhadap foto-foto mu di dunia maya. Apakah engkau dapat menjamin kalau foto mu dalam keadaan aman. Tidakkah engkau marah, jika foto-foto mu yang engkau upload di internet diambil orang, kemudian di cetak dan dipajang mungkin.. Yang setiap hari laki-laki jalang memandang, membelai atau mungkin mencium foto-foto mu. Jangan jadikan dirimu sebagai sumber fitnah... !!!

 

Buat yang lagi Demam Harajuku Style

Jiahahah, topik asyik nih buat digeber! Coz, setelah Harajuku style jadi trendsetter kini nyambung episode Korean Wavealias K-Wave. Pada demam tuh. Bawaannya cenat-cenut aja. Terus, emang kenapa kalo pada demen Korea? Ngak boleh? Dosa ya? Kikikik.. Sabar… Gue mau nyebar energi positif dulu biar ngebahasnya nggak bikin panas dan gerah. So, nggak bikin nih ati emosi dan marah-marah. Prikittiew!
Asyik, unik, bening, cling-cling
 

Seorang Pemuda dan Bidadari Bermata Jeli

Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) ‘Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi Surga.’ (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”
 

Demi Jilbab Aku Rela Drop Out




Berjilbab bukannya tanpa halangan, termasuk dari orang tua. Cukup sering aku ribut-ribut kecil dengan keluargaku soal jilbab ini. Dibilang sulit cari jodoh, sulit cari kerja, kayak ibu-ibu, kayak wanita hamil. Belum lagi kalau pergi ke warung, pasti aku harus berjilbab dulu, pake kaos kaki. Ini dikomentari ribet, tidak praktis, makan waktu. Tapi alhamdulillah, seiring perjalanan waktu, dan juga usaha gigih dari aku dan kakak-kakakku memahamkan soal kewajiban jilbab akhirnya mereka bisa menerima.
Begitu menginjak bangku SMU aku mengajak kawan-kawan di pengajian sekolah untuk berkerudung dan berjilbab. Untuk itu kami mengumpulkan uang untuk membeli bahan seragam jilbab. Ketika naik di kelas II akhirnya kami semua berjilbab. Caranya bahan seragam kemeja putih itu kami sambung dengan rok tapi tetap kami tutupi sehingga keliatan dari luar seperti tidak berjilbab.
Semangatku dan teman-teman untuk berjilbab ini begitu kuat. Sampai-sampai di pelajaran olah raga kami ngotot berjilbab, nggak mau memakai pakaian olah raga dari sekolah. Awalnya guru olah raga melarang, teman-teman juga memandang aneh. “Olah raga kok pake jilbab,” pikir mereka. Karena lobi yang kami lakukan akhirnya guru olah raga mempersilakan kami untuk tetap berjilbab. Hanya saja pihak sekolah tetap tidak setuju dengan keinginan kami berjilbab. Sampai akhirnya diambil keputusan oleh pihak sekolah kalau kami tetap diizinkan berjilbab ketika berolah raga, tapi diberi nilai ‘sewajarnya’. Begitu pembagian rapor nilai 4 dan 5 mengisi mata pelajaran olahraga untukku dan kawan-kawan yang berjilbab.
Tidak mudah menjadi muslimah yang istiqamah di zaman ini. Aku yang ingin berjilbab mendapat banyak hambatan dan tentangan. Tapi, apapun insyaAlllah akan kuhadapi walau harus drop out dari bangku sekolah.
Cobaan Itu Datang
Jilbab yang aku kenakan bersama kawan-kawan akhirnya menular pada adik-adik kelasku yang kami bina dalam pengajian sekolah. Mulanya hal ini tidak dipersoalkan oleh pihak sekolah. Tapi begitu aku naik kelas III masalah itu muncul. Awalnya guru-guru di sekolah menerapkan aturan soal kerapihan seragam sekolah. Kemeja seragam diwajibkan untuk dimasukkan ke dalam rok. Seorang kawan yang kelasnya sedang diinspeksi meminta ijin karena berjilbab. Kontan guru memarahinya. Ia pun dikeluarkan dari kelas. Kejadian itu akhirnya berlanjut ke seluruh kelas. Setiap siswi yang ketahuan berjilbab dikeluarkan.
Kami, siswi kelas III, dipanggil oleh kepala sekolah, diceramahi agar patuh pada aturan sekolah dalam pakaian seragam. Pihak sekolah pun membuat surat panggilan untuk orang tua siswi yang berjilbab. Dalam pertemuan dengan orang tua pihak sekolah tidak saja menceramahi orang tua soal aturan seragam sekolah, tapi juga memberi ultimatum kalau anak-anaknya tetap berjilbab maka mereka tidak diizinkan mengikuti ulangan. Pihak sekolah juga mengopinikan kalau di sekolah sedang berkembang pengajian sesat. Bahkan seorang guru mengatakan bahwa di sekolah ini kita tidak bisa memakai hukum Allah, tapi harus memakai aturan dari pemerintah. Na’udzubillah, padahal guru itu beragama Islam dan mengajarkan mata pelajaran agama Islam. Orang tua juga diminta untuk menyuruh anaknya melepas jilbab atau membuat surat pengunduran diri dari sekolah.
Hasilnya banyak ortu yang memarahi anak-anaknya. Ada kawan yang jilbabnya disobek, ada yang jilbabnya mau dibakar, ada yang hampir digampar, ada yang dilarang ngaji, bahkan ada orang tua yang sampai memohon-mohon pada anaknya agar mau melepas jilbabnya. Sedikit saja ortu yang mendukung anak-anaknya.
Kami tidak menyerah. Perjuangan mulai kami lakukan. Kami mengirimkan surat pembaca ke satu koran daerah. Tujuan kami tidak lain untuk mencari bantuan dan menjelaskan kepada masyarakat kalau berjilbab itu tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Tapi pihak sekolah semakin marah dengan hal itu. Kembali kami dipanggil oleh pihak sekolah, dilarang belajar dan dimarahi. Kami dituding keras kepala, untuk membuka jilbabnya saja tidak mau. Kami juga disebut-sebut sudah mencemarkan nama baik sekolah ke media massa.
Pihak sekolah juga terus-terusan menekan kami. Berkali-kali kami dikeluarkan dari kelas, atau kalaupun boleh mengikuti pelajaran kami dianggap alpa. Meski kami diperbolehkan mengikuti ulangan tapi kami sudah sulit berkonsentrasi karena berbagai tekanan dan intimidasi. Yang membuat hatiku sedih dan tersinggung adalah ketika EBTA praktik mata pelajaran agama dalam cara berwudlu, kami yang berjilbab disuruh membuka kerudung di depan teman-teman ikhwan dan akhwat dengan alasan agar berwudlunya sempurna. Meski kami dan sejumlah teman-teman ikhwan protes tapi tetap saja guru agama kami tidak bergeming. Karena menolak terus akhirnya kami diberi nilai di bawah enam. Karena tekanan dari ortu dan sekolah, beberapa kawan yang kemudian melepas jilbab dan memakai seragam terusan.
Cara sekolah dalam memaksa kami untuk membuka jilbab mulai diperhalus. Mereka mendatangkan sejumlah alumnus sekolah yang kini aktif di satu partai politik Islam nasional dengan tujuan membujuk kami untuk melepas jilbab, dan memakai seragam biasa tanpa disambung. “Soal pakaian jilbab itukan ikhtilaf, dilepas juga tidak berdosa, kok,” kata mereka. Terang saja aku marah dan mendebat mereka. Aku kecewa kok ada aktivis pengajian dan dari partai politik Islam yang berpikiran seperti itu. Tapi mereka seperti tidak malu terus saja membujuk kami untuk melepas jilbab. Mereka juga bergerilya ke rumah-rumah kawan-kawanku, membujuk mereka untuk melepas jilbab.
Pertolongan Itu Dekat
Setiap malam aku berdoa kepada Allah agar Ia memberikan pertolongan kepada kami. Aku sendiri sudah siap seandainya tidak bisa mengikuti EBTANAS dan harus drop out dari bangku sekolah. Mama sudah menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepadaku. Kawan-kawanku juga banyak berdoa setiap malam, bahkan ada yang hampir setiap malam menangis.
Meski begitu kami tidak menyerah begitu saja. Setiap dikeluarkan dari kelas, kami bergerilya ke MUI dan Depag untuk mencari bantuan. Alhamdulillah, mereka cukup merespon. Bahkan ketua MUI sendiri datang ke sekolah dan menyaksikan langsung diskriminasi yang terjadi pada kami. Ia pun menegur pihak sekolah dengan keras.
Lama kelamaan simpati dari guru-guru juga berdatangan. Beberapa guru juga mempersilakan kami untuk tetap mengikuti pelajaran. Mereka yang semula segan untuk memprotes kebijakan sekolah mulai berani angkat suara. Akhirnya sekolah mengalah dan tidak lagi mempermasalahkan jilbab.
Akhirnya pihak sekolah menerima siswinya yang berjilbab, meski aku tahu itu dilakukan dengan segala keterpaksaan. Tapi setidaknya itu sudah jalan keluar teraman dalam keadaan sekarang ini. Aku berharap agar adik-adik kelasku dan juga muslimah manapun yang ingin berjilbab mendapat kemudahan dan ditolong oleh Allah SWT. Amin. [seperti diceritakan Nurul pada Januar].
Sumber : http://www.gaulislam.com



 Sumber : http://www.gaulislam.com
 

10 Kisah Cinta Terindah Sepanjang Masa



1. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra
Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.
Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah  Shallallahu alaihi wa sallam . Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.
Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”
 

Aku Nikahkan Suamiku dengan 72 bidadari


Dibawah ini adalah sebuah surat yang ditulis oleh saudari kita yang telah merelakan suaminya pergi di jalan Jihad, berikut curahan hati istri seorang Mujahid selama waktu penantian, sampai akhirnya ukhti kita ini mendapatkan kabar kesyahidan suaminya.

Semoga Alloh merahmati mereka berdua dan mengumpulkan keduanya kelak di Jannatul Firdaus

 

Jenggot Penting Buat Kamu



Bismilllah
         Sobat Muslim Teenagers,kali ini kita akan membahas tentang “Jenggot” hihi,tentu kata jenggot tidak asing lagi untuk kita,yahh jenggot memang senantiasa diidentikan dengan para teroris yang ada di tv,benar ngak ?
 

MENGAPA MESTI SHALAT DHUHA ???


MENGAPA MESTI SHALAT DHUHA ???
Bismillah
Haruskah kita melaksanakan shalat dhuha ?,shalat dhuha kan Cuma shalat sunnah aja,kalau ditinggal juga tidak dapat dosa kok,jadi ngapain mesti shalat dhuha,buang-buang waktu banget,lagian juga waktunya pas banget buat tidur,apalagi pas libur behhh nikmat banget dimanfaatin buat tidur atau paling ngak nonton tv ,terus nongkrong didepan laptop,iyakan ??
benar ngak apa yang saya bilang diataas ??