1. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra
Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga
kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan
mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu
menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.
Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh
kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar
Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya
berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya
tersebut ternyata ditolak Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam . Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan
ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.
Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya
kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah
kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah
denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan
aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah
dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum
Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”
2. Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah,
suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul
Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa Umar
mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah
pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis
yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar
malah berkata: “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah
diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu,”
Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di
atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada
cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu
bertanya, “Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu
sekarang?” Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “Cinta itu masih
tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!”
3. Abdurrahman ibn Abu Bakar
Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan istrinya, Atika,
amat saling mencintai satu sama lain sehingga Abu Bakar merasa khawatir dan
pada akhirnya meminta Abdurrahman menceraikan istrinya karena takut cinta
mereka berdua melalaikan dari jihad dan ibadah. Abdurrahman pun menuruti
perintah ayahnya, meski cintanya pada sang istri begitu besar.
Namun tentu saja Abdurrahman tak pernah bisa melupakan
istrinya. Berhari-hari ia larut dalam duka meski ia telah berusaha sebaik
mungkin untuk tegar. Perasaan Abdurrahman itu pun melahirkan syair cinta indah
sepanjang masa:
Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari tak terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia dithalaq karena dosanya
Dia berakhlaq mulia, beragama, dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu dan halus tutur
katanya
Akhirnya hati sang ayah pun luluh. Mereka diizinkan untuk
rujuk kembali. Abdurrahman pun membuktikan bahwa cintanya suci dan takkan
mengorbankan ibadah dan jihadnya di jalan Allah. Terbukti ia syahid tak berapa
lama kemudian.
4. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . dan Khadijah binti Khuwailid
Teladan dalam kisah cinta terbaik tentunya datang dari insan
terbaik sepanjang masa: Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam . Cintanya kepada Khadijah tetap abadi
walaupun Khadijah telah meninggal. Alkisah ternyata Rasulullah telah memendam
cintanya pada Khadijah sebelum mereka menikah. Saat sahabat Khadijah, Nafisah
binti Muniyah, menanyakan kesedian Nabi Saw. untuk menikahi Khadijah, maka
Beliau menjawab: “Bagaimana caranya?” Ya, seolah-olah Beliau memang telah
menantikannya sejak lama.
Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita
shahabiyah yang menemui Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam . Wanita ini bertanya, “Ya Rasulullah,
mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan
seruan besar.”
Sambil menangis Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Masih adakah orang
lain setelah Khadijah?”
Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad
Shallallahu alaihi wa sallam untuk
menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi
Muhammad
Shallallahu alaihi wa sallam menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan
pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam ,
Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun
Khadijah meninggal.
Masih banyak lagi bukti-bukti cinta dahsyat nan luar biasa
islami Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam . kepada Khadijah. Subhanallah.
5. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . dan Aisyah
Jika Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam ditanya siapa istri yang paling
dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya
pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta
Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama:
pesona kematangan.
Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini
melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam . Cinta ini
pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut
setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.
Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan,
kecerdasan, dan kematangan dini. Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat
menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”
Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi
Muhammad dan istrinya, Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah. Rasul
pernah bermanja diri kepada Aisyah. Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan
kesayangan ‘Humaira’. Rasul pernah disisirkan rambutnya, dan masih banyak lagi
kisah serupa tentang romantika suami-istri.
6. Thalhah ibn ‘Ubaidillah
Berikut ini kutipan kisah Thalhah ibn ‘Ubaidillah.
Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi,
yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak
suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah
masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam
hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau
telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar
‘Aisyah.”
Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya,
akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”
Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu. Allah
menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al
Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka
mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian
dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh
menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”
Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu
memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan
menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak,
tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma
‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata
zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti
‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.
Subhanallah. Mantab.
7. Kisah cinta yang membawa surga
Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin
Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, ia berkata, “Adalah di Kufah, terdapat
pemuda tampan, dia sangat rajin dan taat. Suatu waktu dia berkunjung ke kampung
dari Bani An-Nakha’.
Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia
jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata cintanya pada si wanita cantik tak
bertepuk sebelah tangan.
Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus
seseorang untuk melamar gadis tersebut. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa
putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak
bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat
seseorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku telah tahu betapa besar cintamu
kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku
akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang
menemuiku di rumahku.’
Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, ‘Aku
tidak setuju dengan dua alternatif itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku
berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang
besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah
padam kobaranya.’
Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata,
“Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada
seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua
hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan
menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan
diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu
pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya, sampai akhirnya
dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya,
Dia menangis dan mendo’akanya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia
bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam
mimpi dia sempat bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan
setelah meninggal?”
Dia menjawab, “Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya,
adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan.”
Pemuda itu bertanya, “Jika demikian, kemanakah kau menuju?”
Dia jawab, “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak
berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”
Pemuda itu berkata, “Aku harap kau selalu ingat padaku di
sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.” Dia jawab, “Demi Allah, aku
juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Subhnawataa'ala)
agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan
kesungguhanmu dalam ibadah.”
Si pemuda bertanya, “Kapan aku bisa melihatmu?” Jawab si
wanita: “Tak lama lagi kau akan datang melihat kami.” Tujuh hari setelah mimpi
itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal
dunia.
Hmm, sebuah kisah cinta yang agung dengan berdasarkan janji
bertemu di surga. Luar biasa. AllahuAkbar.
8. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah
Ummu Sulaim merupakan janda dari Malik bin Nadhir. Abu
Thalhah yang memendam rasa cinta dan kagum akhirnya memutuskan untuk menikahi
Ummu Sulaim tanpa banyak pertimbangan. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu
Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan
dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,
“Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti
engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang
muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa
keinginan saya?”
“Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan,” kata Abu
Thalhah.
“Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan.
Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam,” tukas Ummu Sualim
tandas.
“Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi
pembimbingku?” tanya Abu Thalhah.
“Tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri,” tegas
Ummu Sulaim.
Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam . yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat
kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam . berseru, “Abu Thalhah telah datang
kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya.”
Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan
relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan
keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita
mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu
Sulaim? Hingga tanpa terasa di hadapan Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam . lisan Abu Thalhah basah
mengulang-ulang kalimat, “Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya
bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya.”
Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan
maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits-
meriwayatkan dari Anas, “Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita
yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya.” Selanjutnya
mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan
cahaya Islam.
9. Kisah seorang pemuda yang menemukan apel
Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu.
Dictengah perjalanan dia haus dan singgah sebentar di sungai yang airnya
jernih. dia langsung mengambil air dan meminumnya. tak berapa lama kemudian dia
melihat ada sebuah apel yang terbawa arus sungai, dia pun mengambilnya dan
segera memakannya. setelah dia memakan segigit apel itu dia segera berkata “Astagfirullah”
Dia merasa bersalah karena telah memakan apel milik orang
lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. “Apel ini pasti punya pemiliknya,
lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus
apel ini”.
Akhirnya dia menunda perjalanannya menuntut ilmu dan pergi
menemui sang pemilik apel dengan menyusuri bantaran sungai untuk sampai kerumah
pemilik apel. Tak lama kemudian dia sudah sampai ke rumah pemilik apel. Dia
melihat kebun apel yang apelnya tumbuh dengan lebat.
“Assalamualaikum….”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”. Jawab seorang lelaki tua dari dalam
rumahnya.
Pemuda itu dipersilahkan duduk dan dia pun langsung
mengatakan segala sesuatunya tanpa ada yang ditambahi dan dikurangi. Bahwa dia
telah lancang memakan apel yang terbawa arus sungai.
“Berapa harus kutebus harga apel ini agar kau ridha apel ini
aku makan pak tua”. tanya pemuda itu.
Lalu pak tua itu menjawab. “Tak usah kau bayar apel itu,
tapi kau harus bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa dibayar, apakah kau
mau?”
Pemuda itu tampak berfikir, karena untuk segigit apel dia
harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama tiga tahun dan itupun
tanpa digaji, tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar
bapak itu ridha apelnya ia makan.”Baiklah pak, saya mau.”
Alhasil pemuda itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa
dibayar. Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Tak terasa
sudah tiga tahun dia bekerja dikebun itu. Dan hari terakhir dia ingin pamit
kepada pemilik kebun.
“Pak tua, sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah
berakhir, apakah sekarang kau ridha kalau apelmu sudah aku makan?”
Pak tua itu diam sejenak. “Belum.”
Pemuda itu terhenyak. “Kenapa pak tua, bukankah aku sudah
bekerja selama tiga tahun di kebunmu.”
“Ya, tapi aku tetap tidak ridha jika kau belum melakukan
satu permintaanku lagi.”
“Apa itu pak tua?”
“Kau harus menikahi putriku, apakah kau mau?”
“Ya, aku mau.” jawab pemuda itu.
Bapak tua itu mengatakan lebih lanjut. “Tapi, putriku buta,
tuli, bisu dan lumpuh, apakah kau mau?”
Pemuda itu tampak berfikir, bagaimana tidak…dia akan
menikahi gadis yang tidak pernah dikenalnya dan gadis itu cacat, dia buta,
tuli, dan lumpuh. Bagaimana dia bisa berkomunikasi nantinya? Tapi diap un ingat
kembali dengan segigit apel yang telah dimakannya. Dan dia pun menyetujui untuk
menikah dengan anak pemilik kebun apel itu untuk mencari ridha atas apel yang
sudah dimakannya.
“Baiklah pak, aku mau.”
Segera pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab kabul sang
pemuda itupun masuk kamar pengantin. Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya
dia ketika dia mendengar salamnya dibalas dari dalam kamarnya. Seketika itupun
dia berlari mencari sang bapak pemilik apel yang sudah menjadi mertuanya.
“Ayahanda…siapakah wanita yang ada didalam kamar
pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?”
Pak tua itu tersenyum dan menjawab. “Masuklah nak, itu
kamarmu dan yang di dalam sana adalah istimu.”
Pemuda itu tampak bingung. “Tapi ayahanda, bukankah istriku
buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku?
Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?”
Pak tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan. “Ya, memang dia
buta, buta dari segala hal yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari hal-hal
yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari
hal yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena tidak bisa
berjalan ke tempat-tempat yang maksiat.”
Pemuda itu hanya terdiam dan mengucap lirih:
“Subhanallah…..”
Dan merekapun hidup berbahagia dengan cinta dari Allah.
10. Zulaikha dan Yusuf Alaihi'salam.
Cinta Zulaikha kepada Yusuf Alaihi'salam. konon begitu dalam hingga
Zulaikha takut cintanya kepada Yusuf merusak cintanya kepada Allah Subhnawataa'la. Berikut
sedikit ulasan tentang cinta mereka
Zulaikha adalah seorang puteri raja sebuah kerajaan di barat
(Maghrib) negeri Mesir. Beliau seorang puteri yang cantik menarik. Beliau
bermimpi bertemu seorang pemuda yang menarik rupa parasnya dengan peribadi yang
amanah dan mulia. Zulaikha pun jatuh hati padanya. Kemudian beliau bermimpi
lagi bertemu dengannya tetapi tidak tahu namanya.
Kali berikutnya beliau bermimpi lagi, lelaki tersebut
memperkenalkannya sebagai Wazir kerajaan Mesir. Kecintaan dan kasih sayang
Zulaikha kepada pemuda tersebut terus berputik menjadi rindu dan rawan sehingga
beliau menolak semua pinangan putera raja yang lain. Setelah bapanya mengetahui
isihati puterinya, bapanya pun mengatur risikan ke negeri Mesir sehingga
mengasilkan majlis pernikahan dengan Wazir negri Mesir.
Memandang Wazir tersebut atau al Aziz bagi kali pertama,
hancur luluh dan kecewalah hati Zulaikha. Hatinya hampa dan amat terkejut,
bukan wajah tersebut yang beliau temui di dalam mimpi dahulu. Bagaimanapun ada
suara ghaib berbisik padanya: “Benar, ini bukan pujaan hati kamu. Tetapi hasrat
kamu kepada kekasih kamu yang sebenarnya akan tercapai melaluinya. Janganlah
kamu takut kepadanya. Mutiara kehormatan engkau sebagai perawan selamat
bersama-sama dengannya.”
Perlu diingat sejarah Mesir menyebut, Wazir diraja Mesir
tersebut adalah seorang kasi, yang dikehendaki berkhidmat sepenuh masa kepada
baginda raja. Oleh yang demikian Zulaikha terus bertekat untuk terus taat
kepada suaminya kerana ia percaya ia selamat bersamnya.
Demikian masa berlalu, sehingga suatu hari al-Aziz membawa
pulang Yusuf alaihi salam. yang dibelinya di pasar. Sekali lagi Zulaikha terkejut besar,
itulah Yusuf a.s yang dikenalinya didalam mimpi. Tampan, menarik dan menawan.
Sabda Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam . yang diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit
bin Anas memperjelasnya: “Yusuf dan ibunya telah diberi oleh Allah separuh
kecantikan dunia.”
Kisah Zulaikha dan Yusuf direkam di dalam Al Quran pada
Surah Yusuf ayat 21 sampai 36 dan ayat 51. Selepas ayat tersebut Al Quran tidak
menceritakan kelanjutan hubungan Zulaikha dengan Yusuf alaihi salam. Namun Ibn Katsir di
dalam Tafsir Surah Yusuf memetik bahwa Muhammad bin Ishak berkata bahawa
kedudukan yang diberikan kepada Yusuf a.s oleh raja Mesir adalah kedudukan yang
dulunya dimiliki oleh suami Zulaikha yang telah dipecat. Juga disebut-sebut
bahwa Yusuf telah beristrikan Zulaikha sesudah suaminya meninggal dunia, dan
diceritakan bahwa pada suatu ketika berkatalah Yusuf kepada Zulaikha setelah ia
menjadi isterinya, “Tidakkah keadaan dan hubungan kita se¬karang ini lebih baik
dari apa yang pernah engkau inginkan?”
Zulaikha menjawab, “Janganlah engkau menyalahkan aku, hai
kekasihku, aku sebagai wanita yang cantik, muda belia bersuamikan seorang
pemuda yang berketerampilan dingin, menemuimu sebagai pemuda yang tampan, gagah
perkasa bertubuh indah, apakah salah bila aku jatuh cinta kepadamu dan lupa
akan kedudukanku sebagai wanita yang bersuami?”
Dikisahkan bahwa Yusuf menikahi Zulaikha dalam keadaan gadis
(perawan) dan dari perkawinan itu memperoleh dua orang putra: Ifraitsim bin
Yusuf dan Misya bin Yusuf.
Demikianlah kisah-kisah cinta yang menggugah hati saya
baru-baru ini. Semoga kisah cinta kita sekalian –saya dan anda, wahai para
pembaca- seindah cinta mereka. Wallahu wa Rasulullahu bisshowab.
Ini sumber-sumber bacaan dan kutipan:
1. Buku-buku Salim A Fillah
2. http://aburedza.wordpress.com/2009/06/25/371/
3. http://canzie.multiply.com/journal/item/17
4.
http://planetaqidah.blogspot.com/2010/07/janji-bertemu-di-surga.html
5.
http://abuthalhah.wordpress.com/2011/03/02/thalhah-sebuah-kenangan-atas-cinta/
http://myrednotes.blogspot.com/2011/03/10-kisah-cinta-paling-indah-sepanjang.html
